Selasa, 16 Juni 2020

TUGAS INDIVIDU Sejarah Asia Barat Daya "NASIONALISME TURKI"


NASIONALISME TURKI

           Negara Turki modern adalah negara yang terletak di dua benua. Dengan luas wilayah sekitar 814.578 KM2, 97% (790.200 KM2) wilayahnya terletak di benua Asia dan sisanya sekitar 3% (24.378 KM2) terletak di benua Eropa. Posisi geografi yang strategis itu menjadikan Turki sebagai jembatan antara Timur dan Barat. Bangsa Turki diperkirakan berasal dari suku-suku Iran di Asia Tengah. Secara historis, bangsa Turki mewarisi peradaban Romawi di Anatolia, peradaban Islam Arab dan Persia sebagai warisan dari Imperium Utsmani serta pengaruh negara-negara Barat Modern. Bahkan, Dinasti Turki Utsmani dianggap sebagai satu-satunya sandungan bagi bangsa Eropa dalam melancarkan ekspansi ke dunia Timur.         
         
Peradaban Islam dengan pengaruh Arab dan Persia menjadi warisan yang mendalam bagi masyarakat Turki sebagai peninggalan Dinasti Utsmani. Islam di masa kekhalifahan Turki Utsmani diterapkan sebagai agama yang mengatur hubungan antara manusia sebagai makhluk dengan Khalik, dan juga suatu sistem sosial yang melandasi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Perkembangan selanjutnya memperlihatkan pengaruh yang kuat kedua peradaban tersebut (Arab-Persia) ke dalam kebudayaan bangsa Turki. Kondisi ini sering kali menimbulkan kekeliruan pada masyarakat awam yang sering menganggap bahwa bangsa Turki sama dengan bangsa Arab. 
       Campuran peradaban Turki, Islam dan Barat, inilah yang telah mewarnai identitas masyarakat Turki. Masyarakat Indonesia mengenal Turki sebagai suatu negara berpenduduk mayoritas Muslim.Kita juga mengenal Turki sebagai bangsa yang pernah memimpin dunia Islam selama tujuh ratus tahun, dari permulaan abad ke-13 hingga jatuhnya Kekhalifahan Ustmani pada awal abad ke-20. Fenomena kehidupan masyarakat Turki menjadi menarik ketika negara Turki yang berdiri tahun 1923 menyatakan sebagai sebuah negara sekuler, di mana Islam yang telah berfungsi sebagai agama dan sistem hidup bermasyarakat dan bernegara selama lebih dari tujuh abad, dijauhkan peranannya dan digantikan oleh sistem Barat.

A.   Kemunduran Turki Utsmani
      Menurut Ahmad Zain dan Najah MA, paham nasionalisme diyakini merupakan penyebab utama runtuhnya Khilafah Utsmaniyah. Mengutip pakar sejarah Mahmud Syakir dalam buku Târîkh Islâm Dawlah Utsmaniyah, Najah menyebutkan bahwa sarana untuk menghancurkan kekuatan pemerintahan Islam di Turki waktu itu adalah dengan menghidupkan paham nasionalisme. Yakni dengan membuat dan menyebarkan hadist yang sampai sekarang sangat familiar di masyarakat kita. Yakni hadits yang artinya “Cinta tanah air termasuk iman”.
            Ungkapan “hubbul wathon minal iman” (cinta tanah air sebagian dari iman) memang sering dianggap hadits Nabi SAW oleh para tokoh nasionalis, mubaligh, dan juga da’i yang kurang mendalami hadits dan ilmu hadits. Tujuannya adalah untuk menancapkan paham nasionalisme dan patriotisme dengan dalil-dalil agama agar lebih mantap diyakini umat Islam .
           Puncak kejayaannya Turki Utsmani pada abad ke-19 terus mengalami kemunduran sampai akhirnya mendapat julukan The Sick Man From Europe. Hal ini disebabkan oleh berikut ini :

1. Kelemahan para Sultan dan sistem birokrasi
Ketergantungan sistem birokrasi sultan Usmani kepada kemampuan seorang sultan dalam mengendalikan pemerintahan menjadikan institusi politik ini menjadi rentang terhadap kejatuhan kerajaan. Seorang sultan yang cukup lemah cukup membuat peluang bagi degradasi politik di kerajaan Turki Usmani. Ketika terjadi benturan kepentingan di kalangan elit politik maka dengan mudah mereka berkotak-kotak dan terjebak dalam sebuah perjuangan politik yang tidak berarti. Masing-masing kelompok membuat kualisi dengan janji kemakmuran, Sultan dikondisikan dengan lebih suka menghabiskan waktunya di istana dibanding urusan pemerintahan agar tidak terlibat langsung dalam intrik-intrik politik yang mereka rancang. Pelimpahan wewenan kekuasaan pada perdan menteri untuk mengendalikan roda pemerintahan. Praktik money politik di kalangan elit, pertukaran penjagaan wilayah perbatasan dari pasukan kefelerike tangan pasukan inpantri serta meluasnya beberapa pemberontakan oleh korp Jarrisari, untuk menggulingkan kekuasaan merupakan ketidak berdayaan sultan dan kelemahan sistem birokrasi yang mewarnai perjalanan kerajaan Turki Usmani.
2. Kemerosotan kondisi sosial ekonomi
       Perubahan mendasar terjadi terjadi pada jumlah penduduk kerajaan sebagaimana terjadi pada struktur ekonomi dan keuangan. Kerajaan akhirnya menghadapi problem internal sebagai dampak pertumbuhan perdagangan dsn ekonomi internasional. Kemampuan kerajaan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri mulai melemah, pada saat bangsa Eropa telah mengembangkan struktur kekuatan ekonomi dan keuangan bagi kepentingan mereka sendiri. Perubahan politik dan kependudukan saling bersinggungan dengan perubahan penting di bidang ekonomi. Desentralisasi kekuasaan dan munculnya pengaruh pejabat daerah memberikan konstribusi bagi runtuhnya ekonomi tradisional kerajaan  Turki Usmani. 
3. Munculnya kekuatan Eropa
Munculnya politik baru di daratan Eropa dapat dianaggap secara umum faktor yang mempercepat proses keruntuhan kerajaan Turki Usmani. Konfrontasi langsung pada dengan kekuatan Eropa berawal pada abad ke XFI, ketika masing-masing kekuatan ekonomi berusaha mengatur tata ekonomi dunia. Ketika kerajaan Usmani sibuk membenahi Negara dan masyarakat, bangsa Eropa malah menggalang militer, Ekonomi dan tekhnologi dan mengambil mamfaat dari kelemahan kerajaan Turki Usmani.
4.  Pemberontakan-pemberontakan internal.
Pemberontakan-pemberontakan terjadi dimana-mana, mulai dari Makkah, Wahabiyah, Druze dan pemberontakan di Wilayah pusat kekuasaan telah memperlemah kekuatan militer dan politik.
        Kelemahan Turki kemudian dimanfaatkan oleh negara-negara imperialisme Barat untuk menguasai jajahan Turki atau menghancurkan Turki sekaligus. Adanya perbenturan kepentingan antara negar -negara Barat mengenai status Turki dan daerah jajahan inilah yang menimbulkan “Masalah Timur” (The Eastren Question ).  

B.   Munculnya Nasionalisme Turki
    Turki pernah menjadi negara adidaya. Pada jamannya dimana wilayah kekuasaannyameliputi jazirah balkan  , afrika utara dan jazirah arab. Nasionalisme dan revolusi bangsa turki terjadi setelah perang dunia I, dimana turki berada dipihak yang kalah dan harus tunduk pada keputusan sekutu antara lain menyerahkan wilayah kekuasaannya. Prancis , inggris dan italia mendapat wilayah turki di afrika dan jazirah arab. Sementara yunani dai balkan memperoleh kemerdekaan dari turki. Nasionalisme turki semakin tumbuh setelah negara-negara sekutu berusaha terus melemahkan turki dengan cara membantu gerakan nasionalis yunani merebut wilayah di bagian Balkan tahun 1919.
        Dalam perang melawan agresi Barat tampil Mustapha Kemal Pasha (tokoh militer Turki) yang bersimpati pada gerakan turki muda. Gerakan ini dianggap sebagai realisasi dari nasionalisme turki karena tebentuk atas dasar semangat kebangsaan yang berusaha mengusir kekuasaan barat/asingdan menentang rezim lama yang lemah (sultan hamid II). Gerakan tersebut berhasil mengusir sekutu dan memaksanya untuk duduk dimeja perundingan yaitu perjanjian laussane 1923.
            Dalam menentukan nasib akhir bangsa turki, maka diadakan konferensi sevres pada 1920 antara pihak sekutu dengan turki yang diwakilkan kepada sultan Muhammad VI. Dalam perjanjian sevres ini perdana menteri farid pasha  dipaksa untuk menerima keputusan isi perjanjian tersebut, yang membuat turki kehilangan kekuasaanya diberbagai wilayah, kecuali hanya anatoli yang sudah tidak utuh lagi karena telah dicaplok rusia, istambul begitupula Armenia berdasarkan perjanjian sevres menjadi lepas dari turki dan independen. Tarakian dan azmir berada di bawah kekuasaan yunani. Wilayah anatoli selatan menjadi milik italia dan sekutu berhak mengawasi perekonomian turki.
     Dari perjanjian ini telihat bahwa turki sangat tepojok, dan hal inilah yang melatarbelakangi timbulnya nasionalisme turki, yaitu suatu gerakan kebangsaan untuk menentang campur tangan orang asing di dalam wilayah turki. Bermunculanlah pahlawan-pahlawan turki untuk mengadakan perhitungan.
Sebab-sebab timbulnya nasionalisme Turki adalah sebagai berikut :
1.   Kekuasaan Turki Usmani yang semakin merosot.
2.  Adanya pengaruh dari Revolusi Prancis dengan semboyannya liberte, egalite, dan fraternite.
3.  Timbulnya kaum terpelajar yang berpaham modern sehingga mereka mengetahui apa itu liberalisme, nasionalisme, dan demokrasi.
4.  Kegiatan bangsa Barat yang semakin gencar untuk merebut daerah-daerah jajahan Turki dan siap menghancurkan Turki.
Pada tahun 1919-1923  terjadi revolusi Turki  di bawah pimpinan Mustafa Kemal. Kecemerlangan karier politik Mustafa Kemal dalam peperangan,yang  dikenal  sebagai  perang   kemerdekaan  Turki,  mengantarkannya  menjadi pemimpin  dan  juru bicara  gerakan  nasionalisme  Turki.  Gerakan nasionalisme ini,  yang pada  waktu itu  merupakan  leburan dari  berbagai  kelompok gerakan kemerdekaan di  Turki, semula  bertujuan untuk mempertahankan  kemerdekaan Turki dari rebutan negara-negara sekutu. Namun pada perkembangan selanjutnya gerakan ini diarahkan untuk menentang Sultan. Mustafa Kemal  mendirikan  Negara Republik  Turki di  atas puing-puing reruntuhan kekhalifahan.
      Turki Usmani dengan prinsip sekularisme, modernisme  dan nasionalisme.  Begitu  dominasi panggung  politik  sudah  kuat, Mustafa Kemal dan pemerintahannya melancarkan sebuah  program pembaruan yang ekstensif.


A.   Kesimpulan
    Kemerosotan Turki Utsmani dalam bidang kekuasaan bisa dilihat dari buruknya pemerintahan khilafah dalam memahami dan menerapkan Islam dalam setiap aspek kehidupan negara. Menghadapi kemerosotan itu, khilafah telah melakukan reformasi yang dimulai abad ke-17 sampai dengan abad ke-19. Namun lemahnya pemahaman Islam membuat reformasi gagal. Sebab saat itu khilafah tak bisa membedakan IPTEK dengan peradaban dan pemikiran. Ini membuat munculnya struktur baru dalam negara, yakni perdana menteri, yang tak dikenal sejarah Islam kecuali setelah terpengaruh demokrasi Barat yang mulai merasuk ke tubuh khilafah. 
    Disamping itu Nasionalisme dan separatisme telah dipropagandakan negaranegara Eropa seperti Inggris, Prancis, dan Rusia dengan bertujuan untuk menghancurkan khilafah Islam. Untuk mensukseskan misinya, dibangunlah 2 markas. Pertama, Markas Beirut, yang bertujuan memainkan peranan jangka panjang, yakni mengubah putra-putri umat Islam menjadi kafir dan mengubah sistem Islam jadi sistem kufur. Kedua, markas Istanbul, bertugas memainkan peranan jangka pendek, yaitu memukul telah khilafah. Di pusat Istanbul, negara-negara Eropa ingin memukul khilafah dari dekat secara telak. Caranya ialah mengubah sistem pemerintahan dan hukum Islam dengan sistem pemerintahan barat dan hukum kufur. Sultan Abdul Hamid II dipecat dari jabatannya, dan dibuang ke Salonika. Sejak itu sistem pemerintahan Islam berakhir.

B.   Saran
      Penulis berharap makalah yang berjudul Nasionalisme Turki dapat menambah wawasan serta pengetahuan para pembaca, dan penulis berharap para pembaca semakin menggali informasi mengenai Sejarah Asia Barat Daya.



DAFTAR PUSTAKA

Isawati,M,A. 2012. Sejarah Timur Tengah 1. Yogyakarta: OMBAK

Budiman, A. (2013). PENGARUH NASIONALISME TERHADAP RUNTUHNYA

KEKHALIFAHAN TURKI UTSMANI. Jurnal Artefak.

http://repository.unigal.ac.id:8080/handle/123456789/137

 

Ilyas, M.M. (2014). TIGA ALIRAN PEMBAHARUAN Westernisme, Islamisme

dan Nasionalisme. Jurnal Sosial Humaniora.

Tabrani. Za.(2016)  PERUBAHAN IDEOLOGI KEISLAMAN TURKI. Jurnal Edukasi.

 http://repository.radenintan.ac.id/3495/

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar